Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Pejuang Gigih
By : utamibiran
Hai.
Malam ini hari kesekian setelah lama tak bersua.
Aku sedang berada dipuncak. Puncak kekagumanku pada
jiwa muda yang penuh ambisi. AMBISI. Yap! Aku dapat kata itu. Kalian pernah
sadar seberapa penting ambisi dalam
menjalani hidup? Apa lagi untuk mahasiswa tingkat akhir sepertiku.
Sejujurnya, lelah. Tapi apa daya aku yang belum menjadi apa-apa ini jika langkahku berhenti? Banyak orang bilang “Jangan kelewat ambisius deh nanti nyesel!” Hayooo siapa pernah bilang begitu?
Dari sudut pandang manapun, ambisi itu punya banyak
arti. Tapi menurutku, ambisi itu gigih dijalannya dan berhenti saat telah
sampai. Kenapa mereka bilang nanti nyesel? Cuma 1 jawabannya. KAMU KURANG
GIGIH. Sampai detik ini aku tak pernah berhenti percaya, tiada hasil yang mengkhianati
prosesnya. Tuhan selalu beri cara yang berbeda untuk aku mengerti dan terus
percaya itu.
Dihidupku, aku selalu anggap pembelajaran yang belum
berhasil adalah kertas yang aku harus revisi untuk mencapai hasil yang
mendekati sempurna. YANG AKU KENAL BUKAN PENYESALAN, TAPI PERBAIKAN J
Untuk apa menyesali semua keringat yang telah
bercucuran? Untuk dikasihani berharap dengan air mata semuanya bisa selesai
sempurna? Hei! Bukan itu yang kalian anggap ambisi! Ambisi itu mengejar yang
harus dikejar, merevisi apa yang tak seharusnya ada dijalanmu, dan
menyelesaikan dengan hasil yang mendekati sempurna! Bukan berjalan, berlari,
terjatuh, dan menyesal!
Tidak pernah semudah itu, perjuanganmu menghasilkan yang
sempurna!
Lakukan layaknya itu yang terbaik! Jalankan layaknya
itu perjalanan terakhir! Dan selesaikan layaknya itu karya terakhir. Pejuang
yang terus ada dijalan-Nya pasti akan dapatkan hasil, dengan cara bagaimanapun
Tuhan pasti tunjukan Kebesaran-Nya.
Satu pesanku dipengujung kalimat-kalimat ini...
Kamu bukan kamu tanpa hadirnya mereka, yang mereka
lakukan selalu yang terbaik, yang mereka tunjukkan selalu untuk bahagiamu,
mereka lelah mereka berjuang hanya untuk yang terbaik untukmu, dan atas dasar
cinta mereka berikan semua ketulusan. Apa yang kamu lakukan? Hanya terdiam
didepan monitor membaca ini semua? Dunia tak menunggu kamu menghabiskan
waktumu. Kamu yang harus kejar bahagiamu dengan waktumu! Bahagiamu? Mama papa J
Ayo gerak ! Revisi ! Dan selesaikan dengan diiringi
do’a !
Semangat garap skripsi pejuang gigih !
Tag :
Love,
Malam Tak Sejahat Itu
By : utamibiran
Malam, satu kata penuh hening yang harus
setiap hari hadir. Galau? Mungkin lebih tepatnya merasa sendiri, karena Tuhan
memberi malam bukan untuk alasan buruk. Malam tak sejahat itu.
Selalu terlintas dikala malam datang,
masa depan, angan, cita-cita, cinta, bahkan hingga kesendirian. Malam selalu
memberi inspirasi lebih karena lebih dari 10 jam aku beraktivitas seperti
manusia pada umumnya, dan puncak dari segala cerita? Ya Cuma ada di malam hari.
Hai kamu, hai malam, dan hai esok semoga
terus bahagia. Aku yakin, apa yang Tuhan berikan semuanya tentang kebahagiaan.
Cuma mungkin, kebahagiaan itu hadir harus melewati sebuah pelajaran. Bahas masa
lalu yuk.
Masa lalu? Kelam, kenapa? Karena yang
indah tak mungkin berakhir? Tapi malam ini, masa lalu yang aku maksud lebih
dari sekedar cinta. Yap, dia yang jauh diatas kata cinta. LEBIH DARI SEKEDAR
CINTA.
Namanya Annia Ukhti Faradina, cantik,
pintar, baik, jujur, kesayanganku, penyempurna hidup. Panggilan sayangku
untuknya? Inoy J
Kisah kita bermula dari tahun 2007,
kenaikan kelas 2 SMP. Kita 1 kelas, masuk kelas favorite saat itu. Isinya?
Duuuuhh ngerasa ga guna pertama kali masuk, hening. “Jauh sama kelas gue dulu
ini sih ni, kelas lo dulu gini juga?” Pecahku saat dia duduk disebelahku. “Ih
jaauhhh kelas gue dulu asik berisik ya lo tau lah tam gimana kelas 7.3 dulu” “Ni,
kita serius belajar tapi jangan jaim ya kalo ketawa. Sekolah dibikin stres
bakal musingin”. Sejak hari pertama itu, aku dan inoy seperti saudara kembar.
Tak pernah terpisah. Tidur dikelas bareng, pongo bareng, ngeledek orang bareng, cabut bareng, ngecengin orang bareng, nipu guru bareng, konyollah pokoknya. Dirumahku, bahkan seperti rumahnya, mamaku mamanya inoy,
adeku adenya inoy juga. Sampai saat inoy pacaran dengan tetanggaku, sebut dia gemblung.
Setiap hari sabtu inoy nginep dirumahku. “Malem mingguan” katanya. Aku? Sendiri
hehehe jadi nyamuknya mereka aja udah.
Tapi ada yang aneh dari malam minggu
kala itu, inoy disini tapi gemblungi tak datang. Dia bilang gemblung ada acara
keluarga. Untuk menghibur, aku ajak inoy keluar buat sekedar makan. Saat
perjalanan, inoy cerita. “Dep, si gemblung akhir-akhir ini susah angkat
telfonnya. Dia kya ngejauh gitu dep gue takut.” Duuuh aku masih SMP, PR
matematikaku lebih susah dan penting untuk aku pikirkan. Tapi kembali, siapa
yang bertanya? Hehe sahabat terbaikku. “Mungkin lagi banyak tugas kali noy,
atau lg sibuk sama basketnya, atau dia sibuk cari pacar lagi hahaha bercanda
deng keliatannya dia sayang banget sama lo. Ga mungkinlah” sambil ketawa
digelitikin inoy “Deeeep please deeeeeh yaaaaa gue udah sayang banget sama si
gemblunggg jangan bikin geregetan deh”. Saat sampai, inoy makan. Lahap sekali,
seperti tidak sama sekali memikirkan apa yang sebenarnya menumpuk dibenaknya. Dia
hebat, sangat amat tangguh seperti ibunya J
Saat selesai makan, inoy banyak cerita
tentang indahnya gaya pacaran jaman SMP. Iri? Tidaaaak. Aku tak pernah iri
dengan indahnya hidup inoy, karena aku selalu ikut serta didalam bahagianya.
Sudah mulai larut, mari pulangggg....
Tunggu-tunggu, itu siapa. Kaya kenal.
Semoga inoy ga liat, semoga inoy sibuk main hp. Dan akupun memperlambat lajuku.
Dasar bodooooh. Bodoh aku rasa aku menyerahkan emas kedalam lumpur. Dan berharap
kilaunya tetap terlihat. “DEEEEEEPPP ITU GEMBLUUUUNGGGG KOK SAMA CEWEEEE
MESRAAAA!!! KEJAR DEPPPP!!!!” Aku taku, takut emasku kehilangan kilaunya.
Tuhaaaan L “DEP BERENTI
SEKARANG!” Diapun mengambil alih kemudi dan mengejar... Aku? Diam! Shock!
Sakit! Aku tau rasanya. Saat inoy sampai didepan rumah gemblung, dan wanita itu
pergi. Inoy mengejutkan gemblung. “Mblung itu tadi siapa!!! Kamu bilang kamu
acara keluarga!!! Acara keluarga sama mantan? Mblung kamu ga mikir
blablablabla....” Kilaunya perlahan redup. Aku hanya terdiam dan melihat air
mata bercucuran. Aku mengajak inoy pulang. Dan dia minta aku untuk mengantarnya
kerumahnya. Aku telfon mamaku dan izin bermalam dirumahnya. Aku terus
menenanginya. Terus terus hingga dia tertidur. Maafkan aku Tuhan L
Hari terus berganti hingga tiba disaat
perpisahan SMP. Pisah? Aku dan inoy bahkan hingga detik ini masih menyatu. SMA
dimulai.
Kisahku? Sudah di Secangkir Kopi. Ini masih
tentang dia, yang lebih dari sekedar cinta. Inoy masih sering tidur dirumahku,
berbagi cerita denganku. Dari yang kesel, sedih, sampe seneng. Dari urusan
sekolah, temen, sampe pacar masih jadi urusanku juga. Dia bilang ada laki-laki
berkumis (Kita berdua emang kumis addict) yg lagi deketin dia, temen main Uno
disekolah katanya. Sebut dia kumis. “Deeeep gue ditembaaak sikumisss” suara
bahagia menggelegar diujung telfonku “Cieeee primadona belum apa2 udah ada yang
ngegaet, kumisaaan lagiiii” diapun melanjutkan ceritanya sampai saat lelah dan
dia tertidur TELFONNYA BELUM DIMATIIN INOY !!! PEON !!!
Huuuh akhirnya dia berkilau lagi J Minggu pertama “Dep gue ga
kesana yaa gue diajak jalan sama kumis” Dan semakin sempit waktuku berdua
dengannya. Tapi, dia bahagia. Dia tetap bercerita walau sedikit tapi dia tak
pernah lepas dariku. Terimakasih Tuhan Terimakasih.
Saat itu beberapa bulan dari hari jadi
mereka, dia datang kerumah cerita tentang kebahagiaan mereka tapi rautnya
berbeda. Dia tak seperti yang aku lihat bahagianya. Ini bukan bahagianya seutuhnya.
“Noy, baik-baik ajakan?” Dia menghela nafas dan membuka semuanya “Sangat
bahagia dep, gue bener-bener bahagia banget pacaran sama kumis. Walau dia agak
posesif....” “HAH? Apa noy? Dia posesif? Lo mau tumben” “Ntahlah dep, gue ikut dance
aja gak boleh. Lo taukan gue suka itu. Gue mau main itu harus sama dia. Dia ga
tau aja ini gue kesini” Aku? Tersenyum dan diam J Noy, jangan pernah takut
kehilangan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk berada disamping kita. Mungkin Tuhan
kirim dia, untuk dibelakang (penyempurna) bukan disamping (pendamping).
Beberapa minggu setelah itu, dia
menelfonku dan tak seperti nada biasanya dia putus. Bergegas aku menghampiri
rumahnya. Dia? Menangis bercucuran. Aku tanya apa alasannya katanya dia posesif
dia juga bilang sudah tak sepaham. Ntah apa
yang si kumis itu maksud dengan “paham” aku pikir dengan mereka
memutuskan memiliki status, mereka sudah sejalan.
Dan beberapa minggu setelah itu, inoy
bahagia lagi. Karena apa? Cinta? Bukan! Inoy bukan orang yang mudah beralih.
Dia bilang dia ikut dance dan dia akan refreshing dengan teman-temannya di
salah satu villa dipuncak. Teman-temannya? Yap, ada kumis J
Ntah bagaimana ceritanya, aku tau inoy
kuat inoy hebat inoy tangguh. Tapi mereka lupa, yang kuat hebat dan tangguh itu
Inoy. Bukan kesehatannya!
Aku dapati kabar dari keluarganya inoy
sakit sepulang dari puncak “Tam, nia sakit kerumah ya...” Saat sampai
dirumahnya, sedih, hancur, ntah apa lagi yang ada diotakku melihat dia
kebahagiaanku seperti ini. Sehat J
Segar J tapi kosong,
hampa. AKU. Bahkan dia tak mengenal aku siapa. Aku berusaha sekuatku membuka
segala kenangan. Yang dia lakukan? Hanya “Ayo kita sholat, ayo baca Al-Qur’an”
Ya Tuhaaaaan apa lagi? Aku baru kehilangan kilau emasku, jangan kau ambil pula
emasnya. Aku butuh teman hidup seperti dia. Kebahagian tanpa materi. Kebahagiaan
karena ketulusan. Jangan gantikan dengan apapun yang lebih baik dari ini. Karena
dia yang terbaik Tuhan.
Tak sedikitpun inoy mengingatku. Ingat kekonyolan
kita selama 4tahun belakang ini. Dia membaik katanya, tapi hanya beberapa hari.
Dan diopname. Noy, kita belum manggung berdua loh. Lo mau akustikan kan sama
gue? Kita belum jadi bidan loh. Kita belum umroh bareng noooyyy! KUAT! Inoy
kesayangannya tami. Inoy belum cerita kebahagiaan inoy waktu di puncak. Aku
menjenguknya, bersama teman-teman yang lain. Karena terbatas, kami hanya ber3
masuk keruangannya. Sampai disampingnya, Terimakasih Tuhan telah izinkan dia
mengenalku lagi. Dia tak mengeluarkan 1 patah katapun, tapi dia hanya
memandangku dan menggenggam erat tanganku. Kedua tanganku. Dan, inoy menangis.
Tuhan, dia mengenalkuuuu dia ingin bicaraaa beri dia kekuatan untuk semua ini. Beri
dia kesembuhan untuk terus berbagi cerita dan terus berkilau. Dia malamku
Tuhan.
Dan akhirnya, Inoy yang kuat dan tangguh
keluar dari rumah sakit tanggal 23 Agustus 2010 J Maafin tami ya noy, belum jadi
yang sempurna buat inoy. Maafin tami ga bisa bahagiain inoy. Tunggu tami di
surga ya sayang... Terimakasih yaAllah udah ciptain malaikat tanpa sayap kaya
Inoy.
Ohya diparagraf ke 13, ada kalimat buat
inoy. Yang sekarang, kalimat itu jadi buat tami.
Jangan pernah takut kehilangan sesuatu
yang tidak ditakdirkan untuk berada disamping kita. Mungkin Tuhan kirim dia,
untuk dibelakang (penyempurna) bukan disamping (pendamping) –Utami Prtw 21th-
Ada yang indah dari masalalu? Dia bukan
indah, dia penyempurna, penyemangat, penyihir dunia kelam dan ada yang aku
sebut lebih dari sekedar cinta, dia Annia Ukhti Faradina.
Tag :
Love,
Kamu Impianku
By : utamibiran
Hai
malam, hai hujan, hai kerinduan yang lama tak bersua.
Malam
ini dengan diiringi rintikan hujan, aku terbaring lemas tak berdaya.
Karena
siapa? Cinta? Ah sudah kebal aku dengan satu kata itu. Ini hal lain yang lebih
dari satu kata, Yap dua kata “Masa Depan”. Hei sibuk sekali, bahkan yang lain
masih sibuk dengan kebahagiaan hati mereka. Mungkin maksudnya, mencari mood.
Pikirku
mungkin bukan sesempit itu. Menurutku mood itu dibangun bukan di cari. Hei, apa
yang kamu abaikan selama mencari mood yang katamu hilang? Banyak!
Mereka,
do’a mereka, dan waktu. Mereka? Iya. Mereka orang-orang yang menyayangimu. Yang
mendo’akanmu disetiap sujudnya. Kalian lupa? Menunggu itu bukan hal mudah.
Kalian lupa? Berdo’a tanpa diusahakan itu lelah. Kalian lupa? Usaha mereka tak
terbayar hanya dengan kalian menyerah. KALIAN LUPA? MEREKA SEMAKIN MENUA.
Mah
pah, tunggu aku bawa pulang hasil yang aku usahakan ya. Seperti kata kalian,
apa yang aku buat harus berguna untuk semua orang. Mah pah, aku bangga punya
kalian. Aku tau kalian tak sedikitpun mengerti apa yang aku bicarakan tapi
kalian selalu terima dan memberi seribu semangat saat aku keluarkan keluhan.
Mah pah, aku cengeng. Aku bukan orang kuat seperti teman-temanku, tapi bahkan
tak sedikitpun kalian keluarkan sesal saat Tuhan ciptakan aku. Kalian bilang
aku anugerah terindah Tuhan. Tapi bagiku, tiada anugerah terindah selain hidup
bersama kalian, mengukir tawa disetiap petang, merindu setelah hujan, dan
selalu menjadi kebanggaan kalian walaupun aku terlihat sama seperti yg lain
tapi dimata kalian apa yang jadi lemahku itulah kekuatanku.
Saat
nanti kalian baca ini, aku yakin aku sudah buat kalian bahagia. Karena AKU
BANGGA PUNYA KALIAN.
Mah
pah, sekarang aku tau rasanya berharap. Bukan lagi harapan terbesar, tapi
harapanku satu-satunya hanya dia. Dia buat aku lemah mah pah. Sekali lagi, ini
bukan tentang cinta. Ini tentang AKU, mahasiswi umur 21 tahun disemester akhir.
Mah
pah, aku tidak anggap dia jahat. Dia baik, tapi caraku menerima sikapnya yang
terlalu berlebihan kata teman-temanku. Kembali lagi, aku kecewa mah pah. Bukan karena
aku berpikir dia jahat karena sikapnya, tapi karena harapanku satu-satunya
hanya dia. Dan dia pergi tanpa permisi. Tolong jangan baca ini tentang cinta.
Sekarang,
harapanku harus ku ubah. Aku sendiri yang sering bilang. “Jangan terus
ngandelin orang.” ke teman-temanku. Apa tujuannya? Ini. Aku tak mau mereka
merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Harapan satu-satunya, tapi tak dapat diharapkan.
Aku selalu bilang, belajar. Bukan meminta. Tolong, bukan menodong. Tujuanku
satu, agar mereka bisa juga jadi andalan. Setidaknya untuk diri sendiri.
Ya,
diri sendiri. Harapanku harus aku ubah. Aku harus menjadi andalan. Mah pah,
terimakasih sekali lagi atas senyum disetiap pagi yang kalian berikan penuh
harap. Mah pah, tami belum jadi anak baik. Tapi tami lakuin yang terbaik buat
kalian.
Karena kalian
impianku, dan kebahagiaan kalian tujuan akhirku.
Tag :
Love,
Jatuh Cinta
By : utamibiran
Jatuh cinta? Bisa pilih
jatuhnya kesiapa? Jika iya, aku ingin jatuh tepat pada pilihanmu Tuhan. Aku,
utami pratiwi tahun ini genap 21tahun. Dimana orang diumurku sudah mulai serius
untuk menata hidup. Aku masih terapung disisi gelap, kelam, tak bercahaya.
Mau jadi apa aku? Mau kemana
arahku? Sejujurnya aku hanya ingin bahagia dengan kesederhanaan tapi sempurna.
Lewat tulisan singkat
ini aku ceritakan aku dan hadiah terindah Tuhan untukku detik ini. Tuhan, aku
sadar seberapa jahat aku saat menolak perintahnnya. Malam ini kali kesekian Ia
mendatangiku, hanya untuk sekedar bercerita duduk berdampingan tertawa bersama.
Ini tentang cinta?
Betul! Cinta pertama yang aku rasa saat aku ada di Bumi yang asing ini. Yap,
kalian lupa akan hal itu. Hal yang setiap hari kalian temui. Mama Papa.
Mereka datangi aku yang
sedang sibuk dengan segala aktivitasku dikamar. Hanya sekedar ingin menanyakan
apa tujuanku selanjutnya? Mereka selalu memintaku untuk tinggal dihari libur.
Untuk apa? Untuk melihat anak sulungnya ini tumbuh dewasa.
Ma, pa, aku belum jadi
anak yang baik ya? Aku belum bisa bahagiain kalian? Kalian semakin bertambah
umur, tolong sebut apa yang bisa aku lakukan agar kalian bahagia?
“Hanya kebahagiaankulah
yang jadi kebahagiaan mereka.”
Kalian, sadarkah saat
bertemu seseorang, jatuh cinta, mendekatinya, menjadi bagian darinya, kalian
tau siapa yang paling khawatir? Mereka. Karena apa? Khawatir dia bukan yang
terbaik? Menurutku bukan, karena mereka pasti percaya apa yang anak dewasanya
pilih.
Yang mereka khawatirkan
hanya waktu, waktumu akan begitu banyak tersita untuk dia yang akan segera
menyita waktumu. Mereka hanya butuh beberapa jam untuk duduk bersama kalian
tanpa gangguan. Apa yang kalian lupa? Mereka semakin menua, semakin membutuhkan
cinta besar.
Karena kalian bukan
kalian tanpa-Nya di hari lalu.
Tag :
Love,
PERINDU TULUS, BUKAN PEMBURU MULUS
By : utamibiran
Aku? Bukan. Ini tentang dia, dia yang selalu
merindu bulan. Tapi bukan pemburu bulan, karena dia belum mampu menaklukkannya.
Mungkin ini yang pepatah bilang “bermimpilah
setinggi langit”, tanpa berpikir semua yang diimpikan belum tentu baik untuk
diusahakan. Menurutku kalian bukan lagi saling mengimpikan, karena pada
kenyataannya kalian pernah bersama.
Kamu, sungguh bukan penakluk yang tangguh, bukan pula
pelari yang hebat, ataupun pemburu lihai. Kamu hanya pemerhati yang baik, yang
selalu menopang saat dia jatuh, mengangkat saat dia tak mampu berdiri, merindu
saat dia beranjak pergi, dan lalu hanya bisa pergi untuk menjadi pemerhati
lagi.
Kamu hanya perindu yang tulus, yang hanya bisa
berharap ia akan melirikmu. Datang lalu pergi saat waktu itu tiba? Jika hanya
itu kemampuanmu, mundurlah. Karena dia bulan, yang banyak bintang mengelilingi
bukan hanya kamu.
Saat kamu berdiam, pesaingmu ada diseribu langkah
di depanmu. Jangan berhenti untuk berusaha, jika usahamu terhenti maka jangan
pernah memulainya. Karena usaha hanya akan berhenti jika telah sampai pada tujuan.
Hargai hatimu sebelum menghargai hatinya. Kamu tak
akan mengerti apa yang dia rasa jika kamu hanya mencoba mengerti dia. Tanpa kamu
sendiri tau apa yang kamu rasa. Kamu bilang
itu cinta? Bukan cinta jika terus memberi pengorbanan. Cinta, satu alasan untuk
seseorang bahagia dengan berbagi rasa. Cinta, butuh lawan untuk berbagi segala
hal. Bahkan Tuhan mengizinkanku mencintai-Nya karena Ia membuatku percaya
hadir-Nya untuk menjawab segala do’a.
Ketulusanmu mungkin akan terbalas, tapi mungkin setelah kamu sendiri
mengerti apa yang kamu rasa. Karena kamu akan tersadar, saat kamu mengerti
rasamu itu untuk disampaikan bukan untuk dipertontonkan. Jadilah perindu bulan,
jika hanya terus ingin memandanginya. Tapi teruslah berusaha mengerti, memburu,
dan menyampaikan jika memang dia sasaran tepat untukmu meletakkan lelah.
Ada yang Tuhan ciptakan tak bermata, tak berhidung, bahkan tak berwujud. Tapi dia lah penyempurna hidup, Cinta. Jika bukan kamu penyampainya maka
panahmu tak akan terhenti tepat
dihatinya.-utami pratiwi-
Tag :
Love,
Secangkir Kopi 5
By : utamibiran
Hallo
sesuai request, akhirnya cerita berpuluh-puluh tahun lalu finish dihari ini...
Kopi,
iya dia secangkir kebahagiaan disetiap pagi. Manis, masih semanis hari-hari
sebelumnya. Dan pagi itu, tepat tanggal 26 tanggal bahagia kita. Dia datang
lebih pagi. Senyumnya sangaaaat berbeda. Dia terlihat begitu menawan. Mataku,
tak lepas dari tatapnya. Dia mengejutkan ku dengan seikat mawar. Belum setahun,
ini baru tepat bulan ke 7. “Selamet tanggal 26 ya sayangku pesekku cantikku,
makasih selalu ada buat aku” Dan yang membedakan, diselipkan gantungan kunci
bentuk belimbing kuning. Kopiiiii hehehehe
Tapi,
pagi itu ada yang mengejutkan. Sesampai
di sekolah, kopi izin “Sayang, aku ke toilet dulu ya. Kamu duluan aja
masuknya...”
“Hehe
okay kopi, aku duluan yaaa....”
Aneh.
Tapi bukan itu yang mengejutkanku. Baru melangkahkan kakiku masuk kekelas,
kuda. Iya dia. Dia keluar dengan muka marah. Dan menabrakku.
“Woi
selow dong lu! Ga punya mata apa!” Dia melirik kebelakang dengan tatapan penuh
marah, dan bergegas meninggalkanku yang penuh kesal.
Saat
aku memasuki kelas, Dia. Pacar kuda, menangis terisak. Akupun bergegas
menghampiri kedua temanku “Dii ka, kenapa tuh...”
“Makanya
jangan telat, pacaran mulu sih ketinggalan kan haha”
“Ihhh
jelasin jelasin gamau tau”
“Jadi
tuh tadi.... eh guru tuh guru duduk2...”
Hmmm
dasar kalian ini, kalian berdua manusia terkompak ternyebelin teraneh
tersegala-galanya buat tami... Eh tunggu, dimana kopi? Akupun menelfonnya dan
akhirnya dia muncul. Bersama kuda.
Pas
jam istirahat “Nyong, td kenapa anak berdua itu...”
Kopi
pun ikut masuk obrolan kami “Anak dua siapa yang?”
“Itu
pi, si kuda sama cewenya. Masa tadi pagi aku ditabrak sama kuda. Lucu lagi masa
aku marahin dia melototin. Aturan dia yang takut jadi aku yang takut...”
Dengan
lirikan yang sedikit sinis... “Loh apa urusannya sama kamu? Ngapain juga
ngurusin orang, mau mereka....”
“Udaaaah
deh kooopiiiii. Aku bukan care sama mereka, aku cuma pengen tau aja orang aku
liat marahnya kuda kaya apa masa aku ga tanya kan ini jadi gosip terhangat pagi
ini hehehe...” selahku dalam omongan kopi.
“Dasar
wanita, yaudah aku bayar dulu deh ya abis itu aku kedepan bentar”
“Yaudah
hus hus. Eh dii ka, jadi gimana? Mereka tuh kenapa?”
“Jadi
tuh tam, tadi pas kita berdua dateng. Mereka udah selesai berantem hahahaha
orang kita sampe, lo sampe kok. Ya mana kita taaau.”
“Astaaaagaaaahhhhhh,
sini lu berdua!” dan merekapun mengambil langkah seribu.
Saat
perjalanan pulang sekolah...
“Kopi,
masa dii sama eka ngeselin tadi aku
tanya taunya mereka juga baru dateng. Ngeselin kan mereka...”
“Kamu
tanya apa sih sayaaaaang?” sambil mengelus kepalaku.
“Ituuu
insiden td pagi pi, yang si kuda sama....”
Kopipun
rem mendadak. “Apaan sih kamu, kuda lagi kuda lagi. Kamu masih suka? Hari ini
tuh hari jadi kita tam. Hargain aku dong. Aku udah susah payah buat kamu ada
disini, kamu malah ungkit rintangan yang udah aku lewatin...”
Aku
hanya bisa terdiam, selama 7bulan ini pertama kali kopi membentakku. Dan tak
tertahan, merekapun berjatuhan. Tuhan, salahkah aku?
Kopipun
bergegas mengambil tissue. Dan menghapus air yang berjatuhan. “Maaf sayang, aku
ga maksud bentak. Aku Cuma ga mau kamu peduli sedikitpun sama orang yang kamu
suka aku Cuma takut kehilangan...”
“Tapikan
gak usah pake bentak aku pi, aku udah pernah bilangkan aku gak suka dibentak pi.
Lagian kamu gak usah khawatir. Kuda itu kertas putih yang blm sama sekali aku
kasih tinta. Dia itu ga ada apa-apanya dibanding 7 bulannya kita”
“Iya
sayang, maaf sekali lagi, aku percaya kamu ga akan macem-macem. Aku percaya aku
percaya Cuma ada aku.” Sore itupun ditutup secangkir teh manis, yang mama
buat...
Pagi
itu pagi ke11 yang setiap pagi kopi meninggalkanku ke toilet katanya...
Dan
saat guru datang, diapun tak kunjung datang. Inisiatifku pagi ini, aku tidak
akan menelfonnya. Aku akan langsung mendatanginya.
Tapi
setengah perjalanan, dia berada tepat didepanku “Kamu mau kemana yang?”
“Kemana-kemana.
Dari mana aja kamu. Ketoilet sampe berjam-jam tuh guru udah masuk. Kebiasaan
banget sih pi”
“Iya
sayang maaf aku tadi ketemu Adit jadi ngobrol dulu.” Sambil mengelus kepalaku.
Hari
ini pun berjalan seperti biasanya. Kopi pun memberikan tingkah lucunya yang
membuatku selalu tertawa. Tanpa mengingat kuda dan masalahnya.
Kopi
itu paling jago ngeledek, hobinya ngisengin orang, dia itu paling jago bikin
tami ketawa.
Pagi
itu, hari ke12 semulainya kopi berprilaku aneh.
“Yang
aku ke toilet ya kebelet yang.”
“Yaudah
sana pi, jangan lama. Inget bel masuk.”
“Iya
sayang...” dia mengelus dan beranjak pergi. Tapi panggilanku menghentikannya.
“Pi,
jangan macem-macem ya. Aku tutup kuping dari ocehan orang tentang kamu, aku
percaya kamu. Jaga ya...”
Dia
hanya tersenyum, dan mengelus kepalaku.
Tuhan,
aku tutup kuping tapi aku tak pernah
tutup mataku, hati dan pikiranku.
Pagi
itu tepat hari ke-12. Aku masuk kelas dan meletakkan tasku dan bergegas
kebelakang, sebelum sampi ke toilet pria. Aku terkejut. Ntah marah atau tidak.
Kopi, dia bukan bersama Adit. Tapi ada 2 adik kelasku, wanita dan pria.
Bukan
itu yang membuatku terkejut. Dia ngerokok. Iya kopi ngerokok. Akupun
mendatanginya.
“Toiletnya
pindah ke kantin pi? Itu apa? Rokok? Inget td aku bilang apa?” Akupun bergegas
pergi. Dan kopi mengejar.
“Tam
tam, maaf itu tadi ditawarin ga enak. Maafin aku, ga lagi lagi aku begitu. Maaf
tam...”
Dia
berlari kecil mengejarku. Dan sampai
saat bel pulang. Aku lari meninggalkan kelas. Itu kali pertama aku pulang
sendiri sejak aku memiliki kopi. Tuhan, inikah kecewa?
Kopi,
terus menghubungiku. Bahkan mendatangiku. Dan mama bilang aku belum sampai
rumah.
Akhirnya
malam itu kopi puulang tanpa bertemu denganku. Tapi, inilah aku. Marah
dengannya lebih dari 24jam? Mana sanggup.
“Kopi,
pagi ini aku mau berangkat sendiri. Bukan aku marah, aku gak mau masih emosi
liat kamu. Jangan kecewain aku lagi ya. Kalo kamu duluan sampe kelas, aku
pulang sama kamu. Bye raja telat!”
Sampai
aku didepan pintu kelas.
“Hai,”
senyuman ituuuuuu senyuman itu ada lagi. Dia berbeda.
“Apaan
sih lo. Minggir2 gue mau lewat!”.
“Eh
tam sorry ya kemaren sama pelototannya gua lg emosi banget.” Yap bukan kopi,
tapi kudaaaaaaa!
Tapi
kopi, sudah datang. Tasnya ada. Dan dimejaku
ada coklat dan kertas. “Pulang sama aku kan cantik?”
Dasar
kopiiiiiiii!!!!!
Eh
tapi, dimana kopi? Ah sudah, dia tidak akan melanggar janjinya. Tapi tadi itu
apa? Kenapa kuda bersikap neh? Ah bukan urusanku.
“Hai
yang, udah terima coklatnya? Jadi pulang sama aku dooong” ledekan kopi.
Talk
less, do more. He’s kopi, full of
surprice hehe.
Hari
berganti hari bulan berganti bulan, kali ini tanggal 26 di bulan ke9 . Kopi,
seperti biasa selalu ada kejutan. Tapi 2 kejutanku pagi ini. Kopi? Sudah pasti.
Ini tanggal spesial kami. Pagi itu, kopi tidak bawa bunga.
Tapi...
“Pagi yang, selamat tanggal 26 buat kesekian kalinya. Maaf yaa kantong lagi
kempes. Hehe tapi nanti pulang sekolah nonton yuk udah lama gak nonton.”
“Wuuuu
katanya kantongnya kempes tapi ngajak nonton hehe selamat tanggal 26 juga
jeleeek...”
Kejutan
berikutnya adalah saat aku sampai di sekolah, mereka berdua. Iya dii dan eka,
selalu heboh setiap pagi dan saat mereka melihatku. Mereka menarikku.
“Tam
siniiiiiiii duduk duduk.”
Kopipun
hanya tersenyum menggelengkan kepala dan mengelus kepalaku, beranjak pergi.
“Apaan
sih lu, lagi anniv nih.”
“Kuda
tam sama si nenek lampir, putuuuus! Hahahaha akhirnya itu nenek lampir kena
juga” kata dii.
“Ah
bodo amat deeeh mau putus kek mau gimana kek, bukan lagi urusan gue ntar gue dicemburuin
tuh sama si kopi”
“Ih
bukan itu dodol, kita kan semua gak suka sama nenek itu. Baguus dong dia putus
jadi gak ada yang gak enakan lagi kalo nyerang dia” rencana eka.
Kuda,
dia punya pacar. Pacarnya itu orang paling caper didepan guru. Semua temen
dikelas tami ga suka sama tingkahnya.
“Ooooh
itu maksud kalian hahah terus apa
rencananya?”
Eka
mencetuskan “Deketin aja si kuda, bikin doi respect terus jadi cs abis itu
jadiin sama dii. Kalo kuda ga mau ya bilang aja biar si nenek kesel”
“Ih
kok gueeeee...” sangkal dii
“KARENA
DISINI CUMA ELO YANG MASIH JOMBLO... hahaha” kompakku dengan eka.
Akhirnya
setelah seminggu mereka putus, the plan start here. Kamipun mulai dari sesi
introgasi ala-ala ngegosip dikantin.
“Lo
kenapa putusin nenek da?”
“Matre
dii males gua.”
“Udaaah
daa sama dii ajaa tuh jomblo dia hahaha...” ledekku.
“Kaga
ya da. Gue sama kuda mah mau jadi cs. Kita punya plan nih da. Lo mau join ga?”
kelak dii.
“Weh
plan apa nih”
“Gini
loh kuda, lo pura-pura jadian sama dii. Kalo engga deket deeeh bikin di nenek
minder. Bikin nenek panas, marah, kesel. Setuju ga da?” rencanaku.
“Boleh
deeeh buat kalian apa sih yang engga...”
“Yaudah,
bayarin nih semua da katanya apa sih yg engga. Hahaha” ledekku.
Akhirnya
di hari-hari berikutnya. Kuda, dii, eka, dan aku sering keluar bersama. Main timezone,
makan, hangout ala-ala anak SMA hehe.
Dan
kami sering upload foto ke sosmed. Daaan ternyata nenek marah, kesal, dan dia
jadi pendiam dikelas. Tidak lagi caper. Akhirnya dia sadar kalo tanpa kuda dia
tidak dilirik karena sikap yang selalu
ingin diperhatikan guru.
Tapi
ternyata bukan hanya nenek yang cemburu, kopi. Iya dia. Sudah beratus kali aku
jelaskan. Bahkan dii dan eka pun menjelaskan. Its just plan. Dan yang berperan
dii denga kuda. Bukan aku.
Siang
itu, saat jam istirahat aku cari kopi dikantin, dilapangan, di kelaspun tidak
ada. Aku putuskan untuk keluar sekolah yang kebetulan ada kedai. Karena saat
aku hubungi, tiidak dapat respon. Akhirnya, kedua kalinya. Kopi mengecewakanmu.
Aku, dengan kuda sudah ku bilang dia hanya kertas putih yang bahkan sampai detik ini belum aku coret
tinta. Dia, dia dengan wanita itu. Dia junior ku. Ntah siapa namanya. Aku tak
kenal. Tertawa dan memberi 1 suapan tepat disebrang mataku.
Aku
medatanginya dan diapun terkejut. “Tam tam, ini gak kaya yang kamu liat. Dia bukan siapa-siapa”
“Bahkan
dulu, aku juga bukan siapa-siapa kan pi? Sampe akhirnya aku sama kamu jadi
kita...” akupun bergegas pergi dan
meninggalkan kopi dengan tetesan-tetesan itu lagi.
“Kamu
tau kan tam aku ga suka kamu deket sama kuda. Aku takut.”
“Takut
apa? Kehilangan aku? Ini yang buat kamu kehilangan aku pi. Bukan aku yang deket
sama kuda. Tapi kamu yang ngumpetin dia kan.”
“Tam
aku minta maaf. Aku ga akan ulangin lagi. Aku sama dia bukan apa-apa”
Aku
hanya terdiam. Berhari-hari aku berdiam. Bahkan aku tak peduli dengan kedua
sahabatku. Dengan kekonyolan mereka.
Hari
ini, kopi tidak masuk. Tapi, di group dia mengundang anak laki-laki dikelas
untuk datang kerumahnya.
Dan
saat aku membuka sala satu sosial media, fotonya telah berubah. Bersama junior
itu. Kopiiiiiiiiii, inikah pahitmu? LAAGGGII???
Dan
saat sore tiba dan semua teman laki-laki kelasku sudah tepat ada dirumahnya. Dia menelfonku, kali ini di loadspeaker karena
suaranya menggema.
“Heh
tam, gua mau putus sama lo. Lo kira gua betah sama lo? Hah? Cewek sok alim.
Selaw selaw semua yang udah lo kasih bakal gua balikin haha yang penting kita
putus tam.”
Kopi,
inikah kamu???
Setelah
telfon yang belum terhenti itu menyesakkanku, ada pesan masuk. “Gak usah
diladenin, dia lagi mabok” Kuda. Iya dia. Dia yang memberi tahuku kopi.....
kecewa, lagi.
Tapi
sudahlah. Akhirnya aku tau dia seperti apa. Dan yang aku ingat hanyalah
perkataan pesek. Aku bergegas menelfonnya “Peseeeeeek, gue diputusin kopi,
akhir-akhir ini semuanya kebongkar sek. Gue nyesel ga dengerin lo dulu. Maafin gue
ya sek...”
“Iya
taam, gpp. Yaudah lebih baik tau sekarangkan. Udah jangan disesalin ya. Maafin temen
gue juga. Lo baik, pantes buat dapet yang baik tam.”
Satu
yang ku ambil.
Yakinlah
jika meyakinkan. Dia yang menyayangimu, tidak akan membuatmu berjuang sendirian. Aku tidak pernah
menyalahkanmu menumpahkan secangkir kopimu di gambar kita yang hampir sempurna.
Juga bukan takdir yang aku salahkan, apa lagi keadaan dan dirimu. Tapi, ini
kesalahan kepura-puraan. Cinta itu harus dasar ketulusan, kejujuran dan
perjuangan. Bukan tentang “yang, beyb, cinta, sayang” tapi tentang nama indah
yang selalu terucap dengan lembut. Karena
cinta berawal bukan dari kepalsuan.
“Jaga
dia semenyebalkan apapun dia, karena dia berharga saat telah tak disisi.” -Satriosv-
Tag :
Love,
Secangkir Kopi 4
By : utamibiran
“Hai,” selalu disetiap pagi ku awali
dengan manisnya kopi...
Pagi itu, berbeda. Kopi tidak
menjemputku. Dalam hitungan 6bulan bersama, baru kali itu kita berangkat
masing-masing. Yap, kopi marah...
Aku salah, salah besar. Yang aku pikir
ini bukan suatu kesalahan nyatanya membuat aku kehilangan kopiku pagi ini.
Sore kemarin aku bermain dengan teman
SMPku. Saat aku sampai, mereka menyambutku. Yap “mereka” disana ada temanku,
pacarnya, dan mantanku yang kebetulan kita sepermainan. Aku larut dengan
obrolan panjang sore itu. Aku lupa, lupa mengabari kopi. Fatal, sangat fatal.
Dan yang paling fatal, mantanku mengantarku pulang.
Bodohnya, aku tak bisa berbohong saat
ditanya walau hanya via suara. Kopi, maaf aku telah membuang seluruh perasaanku
kepada orang lain. Aku hanya melihatmu. K A M U.
Aku terus meminta maaf. Bahkan sampai
disekolahpun aku terus mendekatinya untuk meminta maaf. Ini Mei bulan kelahiran
kopi, mungkin dengan ini bisa aku buktikan bahwa hanya DIA.
Sehari sebelum dia ulangtahun, aku dan
kedua temanku mendatangi rumah teman kopi, mereka berlima (2temanku, 3teman
kopi) sepakat untuk membantuku membuat besok jadi hari spesial.
Kebetulan besok freeclass. Dan akupun
datang lebih pagi kerumah teman kopi. Dengan berbalut minidress (dulu blm
berhijab), kue, serta kado aku bersembunyi dekat rumahnya. Kebetulan hari itu
orang tua kopi tidak dirumah.
Satu teman kopi meminta kopi untuk
mengantarnya membeli stick drum. Dan kopipun meninggalkan rumahnya. Akupun mempersiapkan
semuanya didalam rumah kopi...
“Surpriiiiiceeeee....”
“Selamet ulangtahun ya sayang, maafin
aku soal tempo hari aku salah ga kabarin kamu. Aku bener-bener nyesel”
Diapun melempar senyum indah itu “lagi”.
Terimakaasih ya Tuhan kau berikan bingkisan terindah ini kepadaku.
“Makasih ya sayang, aku sayang kamu...”
Hari-haripun berlalu, aku dan kopi
menjadi pasangan terromantis yang pernah ada disekolah kami. Kopi penurut, dia
baik, dia selalu lakukan apa yang baik dan tinggalkan semua yang buruk.
Sampai suatu sore, 1 orang teman kopi
datang kerumah untuk pertama kalinya panggil dia pesek.
“Eeeeh pesek, kopi mana?”
“Gue ga sama kopi, gpp kan? Ga usah
bilang kopi ya gue disini, ga enak.”
Sempat terheran, ada apa dia datang.
Tuhan tolong jangan buat rumit hubungan ini... “Oh iya sek, masuk sini...”
“Lo lagi ga ada masalahkan sama kopi?”
“Engga kok, tenang aja. Gue kesini lagi
pengen ngobrol aja tam” Alhamdulillah bukan maksud lain hehe syukurlah aku
pikir ada apa.
“Tam, gue kesini krn gue ngerasa udah
waktunya gue ngomong.”
Ya Tuhaaaaaaannnn kenapa keadaan ini
lagiiiiiii... Jangan Tuhaaaaan. Aku nyaman jalani dengan kopi...
“Ettt bentar-bentar, jangan bilang lo
punya rasa deh sek! Gue udah cukup ah kemaren ngobrol lupa waktu aja si kopi
semarah itu...”
“Ini tentang dia tam. Bukan gue...”
Keadaan jadi serius. Ada apa ini...
“Tam, gue salut sama lo. Salut liat lo
sebegitunya sama kopi, gue ngerasa lo ga pantes nerima ini.”
Apa maksudnya? Kenapa dia begitu? Kenapa
aku jadi merasa takut...
“Tam, kopi baik tapi dia ga pantes
dapetin lo. Pertama, lo ga suka liat dia ngerokok?”
“Iya sek dia ga ngerokok kok, gue udah
pantau dimanapun kapanpun. Dia sayang sama kesehatannya...”
“Gue setiap hari sama dia tam. Didepan
gue, didepan anak-anak dia selalu ngeremehin lo...”
“Tunggu-tunggu lo kesini Cuma buat
jelekin pacar gue? Temen lo sendiri? Gila kali ya lo”
“Tam, terserah lo mau percaya apa engga.
Tapi ijinin gue buat cerita semuanya...”
“Ok. Silahkan...”
“Dia perokok aktif, dibelakang lo dia
selalu ngehembusin rokok dan sesekali bilang “Nih tam makan ni roko hahaha” gue
kira dia tulus setulus yang gue liat saat dia perlakuin lo didepan kita
semua... Kedua, lo seringkan telfon dia malem-malem? Dia bilang lagi dikamar?
Nonton tv? Padahal dia lagi sama kita-kita. Bahkan dia selalu ngeremehin lo
dengan tingkah tengilnya dia pas lo ngingetin sholat... Ketiga, gue nakal tam.
Kita nakal. Pergaulan kita salah. Pacar dia emang lo, tapi cewe dia banyak. Gue
ga sanggup tam liat lo yang sebegininya pacaran sama orang kaya kita...”
“Apaan sih lo? Lo pikir gue bakal
percaya sek? Gue kenal kok sama orang tuanya. Gue tau keluarganya kaya apa. Dia
emang broken home tapi dia...”
“Yaudah tam, hak lo ko mau percaya apa
engga. Yang jelas gue udah jalanin tugas gue...”
“Yaudah sek makasih ya buat apa yang lo
udah sampein ntah ini real atau engga...”
Dan keadaan pun mencair. Pesekpun
mengeluarkan candaannya. Tapi kenapa? Kenapa jadi gelisah. Kopiiiiii, semua
rasamu telah aku coba, tapi kali ini aku takut. Pertama kalinya aku takut.
Takut kecewa ...
Kopi, jangan tinggalkan sisa yang pahit
setelah lewati yang manis bersama...
Tag :
Love,
Secangkir Kopi 3
By : utamibiran
Sesampainya
aku dirumah. Ku renungkan. Bahkan bukan kopi yang aku mau. Bukan dia. Tapi aku
terbiasa dengan hadirnya aku terbiasa tak meraih apa yang aku ingin. Kata-katanya tadi membuatku
berpikir. Untuk apa aku menunggu seseorang menyelesaikan kebahagiaannya yang
belum tentu mereka akan menyelesaikannya. Berkali aku pacaran, baru kali ini
aku memikirkan kebahagiaan. Apa ini pendewasaan?
Kenapa
baru sekarang aku merasa ada yang salah dari apa yang aku rasa. Apa rasa itu bisa salah?
Bahkan hanya karena 1 senyum aku melewatkan orang yang membuatku tertawa
sepanjang hari? Jahatkah ini Tuhan...
Baik.
Sudah berkali-kali saat aku menjalin hubungan selalu aku yang dibahagiakan.
Kali ini, aku harus membahagiakan orang yang harusnya dapatkan perhatian lebih
dariku.
Konsepnya
membahagiakan untuk dapat kesempurnaan, bukan lagi menunggu ditepian jalan yang
kosong tanpa diapun tau apa yang ku rasa.
Hari
ini, yap tepat tanggal 26 November 2009 aku berdiri lebih awal didepan rumahku.
Menunggu dia, dia yang pasti menunggu hari ini.
Dia
datang...
“Hai,
blm sarapan kan? Nih...” kotak makan
berisi sandwich itupun aku terima. Dalam perjalanan dia selalu menatapku
sesekali dan keadaan hening akupun memakan sarapan pagi darinya sampai dia
memecah keadaan...
“Aku
udah bisa dapet jawaban si blimbing asem ini belum hehe” dan akupun mengalihkan
pembicaraan “Ih apa sih panggilnya blimbing asem, jelek banget gue...” dia
menjelaskan “Loh kamu suka blimbingkan? Tapi kalo blimbingkan rasanya manis,
kalo kamu asem. Juteknya setengah mati liat aja ntar kalo udah jadi pacar, aku
jadiin km tukang bikin ketawa orang” hahaha dasar kopi selalu punya cerita
disetiap pagi..
“Eh
jadi gimana? Aku blm bisa dapet jawabanku ya?” aku beluuummm siiiaaaap ntah apa
yang aku ragukan, aku takuuuut. Dan ini bukan kali pertama aku mengalami
keadaan seperti ini. Kenapa baru sekarang aku bingunggggg.
“Gue
mau jawab, tapi gue takut kita malah jauh”...
“Apapun
jawaban kamu, aku terima. Kalaupun kita ga bisa sama-sama seengganya aku udah
jujur sama perasaan aku. Aku cuma ga mau terlambat. Dan kita masih bisa jadi
sahabat kok”... Senyuman itu, bukan senyuman biasanya kopi. Aku mengecewakanmu?
“Kopi,
maaf ya kalo gue sering ngecewain lo. Gue ga nyangka lo bisa sayang sama orang
kaya gue. Yang bahkan lo tau gue nyimpen rasa buat siapa. Gue ga mau ngecewain
lo lagi kopi. Cukup ini yang terakhir.”
“Yaudah
gue ngerti ko tam, maaf ya gue usaha gue kurang gigih buat bikin lo nyaman sama
gue”... Ini mungkin senyuman terakhirnya...
“Sekali
lagi gue minta maaf kopi, gue ga bisa...”
“Iya
tam yaudah, udah ya kita ga usah bahas ini la...”
“Gue
ga bisa nolak orang sejenius lo. Lo hebat lo buat gue lupa sama apa yang gue
rasa buat orang lain. Lo buat gue nyaman kopi...”
Dia
rem mendadak. Dan menatap mataku dalam, erat dan dia mengeluarkan senyuman
indah itu lagi... Ternyata tadi adalah senyum suram terakhir yang aku lihat...
“Jadi
kita jadian taaam? Aaaaaaaaaaa”
Terimakasih
Kopi, telah mengajarkanku apa arti perjuangan. Aku mengerti sekarang mengapa
dalam suatu hubungan selalu ada kesempurnaan, bukan karena kamu sempurna atau
aku sempurna tapi karena kita yang membuat semua kekonyolan menjadi kebersamaan
yang tiada ternilai...
Kopi
sekarang hobinya ketawa depan mata tami. Dia suka ngeledek tami pesek. Dia
ngelakuin hal-hal konyol yang buat tami lupa, lupa sama apa yang tami rasa buat
dia. Semua jadi manis, indah, tak ternilai...
Karenamu aku tau rasa manis, walau aku kehilangan sebelum memiliki. Mengikhlaskan sebelum disatukan. Kopi, ntah bahagia atau bukan tapi kamu selalu jadi secangkir kopi terspesial di setiap pagi...
Karenamu aku tau rasa manis, walau aku kehilangan sebelum memiliki. Mengikhlaskan sebelum disatukan. Kopi, ntah bahagia atau bukan tapi kamu selalu jadi secangkir kopi terspesial di setiap pagi...
Selamat
pagi kopi...
Tag :
Love,
Secangkir Kopi 2
By : utamibiran
“Hai,” kopi pagi
terus ada. Dia menjadi menyenangkan menjadi kebahagiaan di tengah kerunyaman
hidup. Tak terasa sudah lama kita berdua... Sudah lama tidak ada si senyum, dan
aku mulai terbiasa. Dia yang membuatku terbiasa tanpa senyumnya.
Pemilik senyum
itu, terus berlari saat dikejar. Dan dia berhenti saat akupun berhenti. Seperti
kuda yang menemukan padang rumput yang luas. Dia lepas, hempas, tanpaku. Yap dia
bahagia, walau bukan denganku. Aku harus bahagia, sebahagia ia tertawa.
Baik! Kita mulai
semuanya disini... Kisah ini bermula di kala pagi. Pagi itu pagi yang berbeda.
Kopi iya dia, alasanku bukan menjadikannya pelarian. Bukan! Aku tak sejahat itu
kepada orang yang tepat berdiri didepan pintu rumahku saat ini. “Hai,” Didepan
pintu. Iya! Tepat didepan pintu! “Tau dari mana rumah gue” terheran, aku tak
pernah mengajaknya kerumah. “Kemaren sore sengaja ikutin lo tapi lo gatau kan”.
Dasar kopi! Selalu punya kejutan disetiap pagi. Selalu memberi semangat
berbeda!
Saat dalam
perjalanan, dia selalu melempar senyum yang tak pernah semanis itu. Aku dapati
gulamu sekarang kopiiii! Kenapa jadi beda? Kenapa rasa ini hampir sama seperti aku melihat kuda dulu?
Satu pertanyaan yang mengacaukan
lamunanku. “Hei kenapa rata-rata cewe sukanya sama yg indah kaya ngeliat
bintang diatas bukit? Dari pada main ke dufan gitu?” jawabku “yaiyalah kedufan
mah capek panas” ternyata dia punya kalimat lain yang membuatku terheran “Pantes
cewe suka yang indah tapi ga bisa langsung dirasa kebahagiaannya, kenapa sih
cewe suka sama yg susah digapai padahal didepan matanya udah ada kebahagiaan
yang ngejamin mereka bahagia” Aku diam, diam seribu bahasa. Sepertinya kopi
tau, tau aku pernah menyimpan rasa. Dan diapun hanya tersenyum...
Siang itu,
dimana siang seperti biasanya berjalan. Kopi selalu hadir disaat kekosongan.
Dia memecah lamunanku dan mengajakku makan, seperti biasanya. Itu siang seperti
biasa, tapi ada hal spesial yang tak biasa. “Coba deh, enak...” Dan untuk
pertama kalinya dia memberi 1 suapan untukku. Dan pertama kalinya aku tak
menolaknya dan mataku terasa terhenti didalam tatapannya. Sekali lagi perbedaan
itu ku rasa hari ini...
Sore dihari yang
sama. Aku sengaja meninggalkannnya, berharap dia tak melihatku dan tak
mengantarku pulang. Sudah cukup keanehan untuk hari ini pikirku. Tapi belum
berakhir. Ternyata dia sudah didepanku sekarang. “Ko duluan sih tadi? Untung
gue sigap” Dan akupun ikut dengannya. Disela perjalanan, dia berhenti dan
sekali lagi keanehan ini hadir tapi ini lebih dari keanehan sepanjang hari
tadi. “Gue suka sama lo, gue tau lo suka sama kuda gue tau pasti yang lo harap
saat ini yg ngomong ini dia. Kalian cocok, lo bisa dapet dia. Tapi dia ga mau
jadi perusak, ngerusak bongkahan2 yang udah gue bangun. Tolong hargain
hubungannya, ayo kita buat cerita kita sendiri. Jalanin yuk” Akupun hanya bisa
terdiam, dan diapun tersenyum “Gak
dijawab sekarang juga gpp” Akupun turun, dan dia membelai kepalaku.
Sekali lagi, aku telah mendapati gulamu
kopiiii !
Tag :
Love,









